Pesisir Barat - Di tengah derasnya arus perubahan sosial dan menguatnya sikap individualistis, upaya menjaga persatuan dan menghidupkan kembali semangat gotong royong menjadi tantangan serius bagi kehidupan bermasyarakat. Menjawab kondisi tersebut, Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil IV (Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat), Imelda, S.H., menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Pesisir Barat, Sabtu (31/1).
Kegiatan ini dihadiri tokoh masyarakat, aparatur pekon, serta warga dari berbagai lapisan yang tampak antusias mengikuti jalannya sosialisasi. Suasana berlangsung hangat dan cair, membuka ruang dialog antara wakil rakyat dan masyarakat tentang tantangan kebangsaan yang kian terasa di tingkat akar rumput.
Dalam pemaparannya, Imelda menekankan bahwa persatuan tidak boleh dipahami sebatas jargon seremonial, melainkan harus dirawat melalui praktik gotong royong yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila justru diuji saat masyarakat dihadapkan pada perbedaan kepentingan, tekanan ekonomi, dan perubahan gaya hidup.
Ia menilai, gotong royong yang dahulu menjadi denyut utama kehidupan desa kini mulai tergerus oleh pola pikir pragmatis dan individual. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat melemahkan ikatan sosial dan berujung pada rapuhnya persatuan di tingkat lokal.
“Pancasila hidup ketika masyarakat saling peduli, saling membantu, dan tidak membiarkan satu sama lain berjalan sendiri. Dari situlah persatuan tumbuh,” ujar Imelda di hadapan peserta.
Lebih lanjut, Anggota Fraksi PAN Lampung ini menegaskan bahwa pengamalan Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan konkret, seperti menjaga kerukunan antarwarga, menguatkan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan pekon, hingga membangun kerja sama dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Menurutnya, desa yang kuat secara sosial akan menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan daerah.
Diskusi yang berlangsung interaktif itu juga mengangkat realitas kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, yang kerap membuat masyarakat abai terhadap nilai kebersamaan. Imelda mengajak masyarakat untuk menjadikan gotong royong sebagai kekuatan bersama, bukan sekadar romantisme masa lalu.
Ia berharap, sosialisasi pembinaan ideologi kebangsaan ini tidak berhenti sebagai agenda formal, melainkan menjadi pemantik kesadaran kolektif untuk kembali merajut persatuan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
